Jumat, 07 Oktober 2011

KHUTBAH JUM’AT Di Istiqomah, 29 September 2011


JANGAN LUPAKAN KEBAIKAN ORANG LAIN

الحَمْدُ ِللهِ اشّهدُ أنْ لآاله الا اللهُ وَحْدَهُ لاشَريكَ لهُ وَأشْهَدُ أنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلهُ لانَبيّ بَعْدَهْ * اللهُمّ صَلىّ عَلى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمّدٍ وَعَلى الهِ وَأصْحَابِهِ وَسَلّمْ تَسْلِيمًا كثِيرًا * أمّابَعْد: فَيَا أيّهَاالنّاسُ، إتّقُوااللهَ تَعَالى، حَقّ تُقَاتِه وَلا تَمُوْتُنّ إلاوَانْتُمْ مُسْلِمُوْنَ*
 
Ma’ashirol Muslimin, jama’ah sholat Jum’at yang dimuliakan oleh Allah SWT.
Marilah kita bertaqwa kepada Allah SWT dengan sebenar-benar ketaqwaan. Dengan melaksanakan semua perintah Dzat yang Menghidupkan dan Memberi kita rizqi, dengan segenap kemampuan maksimal kita. Dan marilah kita tinggalkan dan jauhi semua bentuk kemaksiatan dan dosa, kecil apalagi besar, yang dapat mengotori fitrah kholqiyyah kita, fitrah penciptaan setiap manusia dalam keadaan suci dari dosa dan beragama Islam yang benar. Sehingga kita dapat kembali dengan selamat kehadapan Sang Pencipta Allah Robbul ‘Alamin.QS. 3:102.  Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.

Segala Puji bagi Allah yang telah mengutus Rosul-Nya Muhammad SAW dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, sehingga dengan petunjuk tersebut kita mempunyai pedoman tentang cara bertaqwa yang sebenarnya selama menjalani kehidupan di dunia. Semoga kita dibimbing oleh Allah SWT untuk senantiasa berada pada jalan yang benar sampai akhir kehidupan kita di dunia ini. Aamiin
Sholawat dan salam marilah senantiasa kita sampaikan kepada manusia paling mulia Nabi dan Rosulullah, Muhammad SAW. juga kepada para keluarga dan sahabat-sahabat beliau serta kepada orang-orang yang istiqomah memperjuangkan dan menyebarkan Agama Islam setelah beliau wafat hingga hari kiamat.

Ma’ashirol Muslimina Rohimakumullah
Hari ini, kita telah berada di awal bulan Dzulkaidah 1432H. Bulan yang merupakan salah satu bulan haram dari 4 bulan haram sebagaimana diterangkan Allah SWT melalui firman-Nya dalam QS. At-Taubah :36 yang berbunyi:


QS. 9 : 36.  Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram[640]. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, Maka janganlah kamu menganiaya diri[641] kamu dalam bulan yang empat itu

Hadits Nabi SAW sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abu Bakrah ra. menyebutkan 4 bulan ini adalah bulan Rajab dan bulan yang diistilahkan dengan tsalatsatun mutawaliyat (tiga bulan berturut-turut, yaitu Dzulqaidah, Dzulhijjah dan Muharam).
Artinya bahwa hari ini sampai dengan akhir bulan Muharam nanti (3 bulan kedepan) kita berada pada bulan yang mulia, bulan yang kita diperintahkan Allah:

As-Sya’adi rahimahullah berkata dalam tafsirnya bahwa ayat di atas menjelaskan. bahwa bulan-bulan haram telah ditetapkan ketentuannya bagi para hamba-Nya agar meramaikannya dengan ketaatan kepada Allah seraya bersyukur atas karunia yang Dia berikan kepadanya dan larangan melakukan kezaliman (termasuk perbuatan-perbuatan haram lainnya) pada bulan-bulan tersebut, karena bobot atau nilai keharamannya lebih berat dan besar dibandingkan jika dilakukan pada bulan-bulan lainnya.
          Oleh karena itu, marilah kita menjaga diri kita dari melakukan kemaksiatan dan dosa di bulan-bulan haram ini dan tentunya juga di bulan-bulan selainnya di sepanjang hidup kita. Sebaliknya marilah kita selalu memperbanyak berbuat kebaikan dan pahala, sehingga Allah swt memandang kita dengan pandangan kasih sayang-Nya. Lakukan kebaikan mulai dari kebaikan dengan ganjaran yang paling besar sampai kebaikan berupa terus mengingat kebaikan yang pernah orang lain lakukan untuk kita, sebagaimana yang pernah dicontohkan Rosulullah saw dalam sebuah riwayat berikut ini.

Ma’asyirol Mu’minina Rohimakumullah
Pada suatu siang di Masjid Nabawi, Madinah Al Munawaroh. Tidak seperti biasanya Rosulullah SAW tampak ke hilangan sesuatu. Sorot matanya melihat ke sudut-sudut masjid. Ia mencari sosok yang biasa ia lihat ada di masjidnya. Rosul SAW lantas bertanya kepada para sahabatnya, perihal perempuan tua yang biasa membersihkan masjid. Para sahabat tampak heran dengan pertanyaan Rosul SAW. Mereka tidak mengira sosok nenek tua itu mendapat perhatian besar dari Rosulullah SAW. Para sahabat lalu menyampaikan bahwa perempuan itu telah meninggal dunia.
Rosul SAW, sang teladan, tampak gusar  dan bertanya heran kepada para sahabat, “Kenapa kalian tidak mengabariku?” Lalu para sahabat menjelaskan, “Dia meninggal di malam hari dan kami tidak ingin mengganggu engkau.
Seperti tersentak Rosulullah mendengar berita duka itu. Jiwanya yang halus dan penyayang begitu tersentuh saat menerima berita bahwa sosok perempuan tua yang biasa dijumpainya kini telah menghadap Allah SWT, tanpa sepengetahuannya.
Rosul SAW segera meminta para sahabatnya, “Tunjukkan kepadaku kuburannya!”
Siang itu, para sahabat bersama Rosulullah SAW pergi ke sebuah makam tempat peerempuan tua itu disemayamkan, baru tadi malam. Rosul SAW lalu mensholat ghaib kannya (di atas kuburannya) dan berdo’a untuknya.

Ma’ashirol Muslimin Rohimakumullah
Inilah sebuah tauladan kebaikan dari manusia paling mulia di muka bumi ini. Sebuah kebaikan, yang bahkan oleh para sahabatnya kala itu dianggap sepele, yaitu memberikan Penghargaan atas Kebaikan Orang Lain.
Rosul SAW telah menunjukkan betapa pedulinya beliau terhadap sebuah jasa yang dianggap kecil oleh orang lain. Bagi sebagian kita, mungkin jasa yang dilakukan nenek tua itu tidak termasuk ke dalam kelompok jasa yang patut diperhatikan. Cuma menyapu masjid. Pekerjaan seperti itu, memang nyaris tidak mendapat perhatian apapun dari lingkungan sekitarnya. Para sahabat Rosul SAW pun bukan tidak tahu dan tidak menghargai jasa nenek yang berkulit hitam itu. Namun mereka tidak menyangka dan merasa peran membersihkan masjid yang dilakukan perempuan tua itu ternyata menempati posisi istimewa dalam pandangan Rosul SAW.
Memang, seringkali manusia menghargai jasa orang lain hanya dikaitkan dengan kebutuhannya yang sifatnya sangat sementara. Ketika perlu, seseorang cenderung merasakan peran-peran orang lain begitu berharga. Tapi jika tidak perlu lagi atau kebutuhan telah didapatkan, biasanya peran dan jasa itupun hilang bak debu diterpa angin, tidak ada bekasnya.
Tidak sedikit, seorang anak yang sudah berhasil, menganggap orang tuanya hanya sebagai beban yang merepotkan, karena beliau-beliau telah tua dan tidak produktif lagi.  Lalu ditipkan dipanti jompo atau dibiarkan mengurus mereka sendiri.
Tidak sedikit seorang murid atau santri yang sudah sukses, menilai guru-gurunya hanya sebagai batu loncatan menuju cita-cita yang diinginkannya. Ketika cita-cita itu tercapai atau telah sekian lama dirinya melewati masa belajar, jasa para guru-guru mereka dahulu terlupakan sama sekali bahkan menganggap keberadaan orang yang telah menyebabkan mereka dapat membaca, berilmu dan bernilai sekarang, seakan tidak ada.
Adapula yang meninggalkan rekan sekerja, sahabat atau orang lain yang pernah berjasa, karena mereka sudah tidak berkedudukan tinggi, sudah tidak memiliki jabatan dan sudah tidak berguna baginya. Atau karena dirinya sudah berada di posisi yang lebih tinggi dari orang-orang itu.

Jama’ah Jum’at yang Insya Allah dirahmati Allah SWT.
Marilah, melalui momen bulan haram ini. Selain kita senantiasa menjaga diri dari perbuatan maksiat dan dosa serta beribadah sungguh-sungguh di hadapan Allah, kita ingat kembali dan mencontoh apa yang pernah Rosul SAW dalam kisah yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim di atas.

Karena sesungguhnya hal itu juga merupakan perintah Allah swt sebagaiman tersebut dalam Firman-Nya:


dan janganlah kamu melupakan keutamaan di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha melihat segala apa yang kamu kerjakan.

Marilah kita pandai-pandai membaca, meneliti dan mentafakkuri perjalanan hidup ini hingga langkah terakhir kita di Masjid ini. Sesunggunya perjalanan kita tersambung karena banyak peran dan jasa orang-orang di sekitar kita.
Kedua orang tua kita, istri dan anak kita, sahabat-sahabat kita, guru-guru kita, rekan-rekan kerja kita atau bahkan orang-orang yang hanya kita ketemu dengannya 1 kali di jalan, terminal atau di negeri-negeri asing yang kita kunjungi , yang mungkin dalam pandangan kita tidak selalu berjasa. Namun sesungguhnya entah besar atau kecil, telah memberikan kontribusi dalam hidup kita.

Marilah kita belajar dari Rosulullah SAW, yang begitu memberikan curahan hati dan fikirannya terhadap seorang perempuan tua di Masjid Nabawi yang sesungguhnya kebaikan yang diberikan orang tua itu tidak untuk Rosul pribadi, tapi justru sebenarnya dirasakan oleh banyak sahabatnya, mereka selalu mendatangi masjid dalam keadaan bersih sehingga mereka dapat beribadah dengan tenang dan khusuk di dalamnya.
Demikian mulianya Rosul, beliau telah mengajarkan kepada kita tentang menghargai jasa orang lain. Penghargaan jasa yang tidak ada kaitannya dengan kebutuhan pribadi, terlebih jika ada jasa orang lain yang terkait dengan kebutuhan pribadi atau keluarga kita.
Penghargaan atas peran dan jasa yang boleh jadi dianggap sepele, kecil, sederhana dan tidak bergengsi oleh orang lain. Tidak memerlukan keahlian khusus untuk melakukannya. Namun jasa tetaplah jasa. Dan manfaatnya tetaplah harus dikenang dan dihargai.
Mari ingat dan sapa semua orang yang pernah berjasa kepada kita, dan kepada kehidupan kita. Mudah-mudahan dengan itu kita pun akan menjadi orang yang tidak dilupakan oleh orang lain.

بَاَركَ اللهُ لِي وَلكُمْ فِي القرْآنِ العَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الأيَاتِ وَاذِّكْرالحَكِيْمِ. أَقُولُ قَولِي هَذَا وَاسْتَغْفِرُاللهَ العَظِيمِ لِي وَلكُمْ وَساَئِرِالمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَ نْبٍ فَاسْتَغْفِرُهُ إنَّهُ هُوَالغَفُورُالرَّحِيم.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar