UMAT; USTADZ MUTTAQIN ANANG TOHA

Ustadz Muttaqin Anang Toha (UMAT) dapat digambarkan sebagai seorang pendidik, dai, penggerak majelis taklim, dan tokoh utama di balik perkembangan Tarbiyah Syamilah.

Beliau adalah

1. Ketua Yayasan Tarbiyah Syamilah

Ustadz Muttaqin Anang Toha tercatat sebagai Ketua Yayasan Tarbiyah Syamilah. Dalam penjelasannya, Tarbiyah Syamilah diarahkan untuk memberikan pembinaan Islam secara menyeluruh melalui majelis taklim yang rutin. 

2. Berasal dari Desa Burai, Ogan Ilir

Beliau lahir pada tahun 1977 di Desa Burai, Kecamatan Tanjung Batu, Kabupaten Ogan Ilir. 

3. Seorang pendidik

Beliau memiliki latar belakang pendidikan teknik Elektro di Universitas Sriwijaya dan mulai mengajar sejak masih kuliah, yaitu pada tahun 1996 di MTs. Nurul Ula Burai. Saat ini beliau aktif sebagai guru di SMA Negeri 1 Tanjung Batu. 

Menariknya, jejak sebagai pendidik juga terlihat dalam materi pembelajaran matematika yang diterbitkan atas nama beliau, seperti materi statistika dan program linear. 

4. Aktif sebagai dai

Selain aktif mengasuh pengajian di bawah naungan Yayasan Tarbiyah Syakilah, Beliau adalah anggota Corps Dai Dompet Dhuafa (Cordofa) Sumatera Selatan, dan mulai terlibat dengan Dompet Dhuafa Sumsel sejak 2016. Salah satu aktivitasnya adalah mengisi ceramah agama di radio dan membina majelis taklim. 

Pada 2025, Dompet Dhuafa Sumsel juga menjadikan beliau sebagai local leader dai Dompet Dhuafa Sumatera Selatan untuk wilayah Kabupaten Ogan Ilir. 

5. Membangun Tarbiyah Syamilah dari gerakan pengajian

Pada 2019, ketika diwawancarai, beliau sudah memimpin sekitar 20 unit pengajian/majelis taklim di berbagai wilayah Ogan Ilir. Saat itu beliau menjelaskan bahwa Yayasan Tarbiyah Syamilah bergerak dalam bidang keagamaan, sosial, dan pendidikan, dengan cita-cita mengembangkan pendidikan termasuk mendirikan masjid dan pondok pesantren. 

Kemudian perkembangannya semakin luas. Pada 2023, ketika RMT Tarbiyah Syamilah Palembang dilantik, disebutkan ada 35 unit RMT di Ogan Ilir serta jaringan majelis taklim di Palembang. 

6. Konsep dakwahnya adalah “tarbiyah” yang menyeluruh

Ada satu kalimat beliau yang menggambarkan pemikirannya:

“Di Tarbiyah Syamilah kita dibimbing secara menyeluruh ajaran Islam, dalam semua aspek kehidupan.”

Dan dari situ muncul tagline untuk pengajian Tarbiyah Shamilah yang beliau asyh:

“Belajar Sepanjang Masa, Bersaudara Selamanya, Berdakwah Tujuannya” 

7. Dakwah yang dipadukan dengan kepedulian sosial

Beliau melalui Yayasan Tarbiyah Syamilah tidak berhenti pada kajian. Misalnya pada Pengajian Akbar awal 2024, lebih dari 400 jamaah berkumpul dan berhasil menghimpun Rp14.306.000 untuk Palestina melalui Dompet Dhuafa. Pada acara itu Ustadz Muttaqin Anang Toha juga memberikan tausiah. 

8. Menulis dan membuat materi dakwah

Ustadz Muttaqin Anang Toha tidak hanya berdakwah secara langsung di majelis-majelis ilmu saja tetapi juga berdakwah melalui tulisan-tulisa baik di media sosial juga menerbitkan buku-buku dakwah. 

Buku-buku karya beliau antara lain: Bekal Orang Beriman, Aku Bisa Membaca dan Menulis, Mutiara Hidayah dari Al Qur'an, Do'a-do'a Terbaik Dari Al Qur'an, Dzikir dan Do'a Istighfar, Bejalan Nyaman Ibadah Tenang, Senandung Majelis Taklim, dll

Berdasatkan keseluruhan perjalanan hidup beliau, kita akan menemukan gambaran tentang beliau sebagai berikut:

Guru → Dai → Pembina Majelis Taklim → Penggerak Umat → Pendiri/Pimpinan Yayasan → Membangun Gerakan Pendidikan Islam. 

Dan yang paling kuat tentang beliau, bukan sekadar jabatan, tetapi membangun sebuah sistem pembinaan umat yang tumbuh dari majelis kecil menjadi jaringan yang jauh lebih luas.

Berdasarkan informasi yang dihimpun tim, Yayasan Tarbiyah Syamilah yang beliau dirikan sejak tahun 2006,tahun ini sudah memasuki usia ke-20 tahun.

Dalam acara perayaan Milad ke-20 Tarbiyah Syamilah Ahad, 30 Agustus 2026 nanti, beliau akan mengangkat perjalanan dakwah beliau dari 1 unit pengajian di Rengas 1 & 2 menjadi sekitar 40 unit di Ogan Ilir dan 7 unit di Kota Palembang. 

Inilah beliau, Ustadz Muttaqin Anang Toha

Seorang guru yang menjadikan ilmu sebagai jalan dakwah, seorang dai yang menjadikan majelis taklim sebagai sarana tarbiyah, dan seorang penggerak umat yang berusaha membangun generasi, menguatkan keluarga, mempererat persaudaraan, serta menghadirkan manfaat sosial melalui Tarbiyah Syamilah.

Dari berbagai sumber publik yang tersedia. Hasilnya cukup menarik: perjalanan Ustadz Muttaqin Anang Toha bukan sekadar perjalanan seorang ustadz, tetapi perjalanan seorang guru yang kemudian membangun gerakan pembinaan umat melalui majelis taklim.

Ada beberapa informasi yang baru bisa saya pastikan setelah penelusuran ini. Saya juga akan membedakan antara data yang dapat diverifikasi dari sumber publik dan informasi terbaru yang sebelumnya Anda sampaikan kepada saya.

1. Masa kecil dan keluarga

Muttaqin Anang Toha lahir di Desa Burai, Kabupaten Ogan Ilir. Beliau merupakan anak pertama dari pasangan Anang Toha Toseh dan Fatmawati Makmun. Data ini tercantum dalam biodata penulis buku Zikir dan Do'a Istighfar. 

Desa Burai bukan sekadar tempat kelahiran beliau. Dalam perjalanan hidupnya, desa ini menjadi salah satu titik awal pengabdiannya sebagai pendidik. Pada 1996, ketika masih kuliah, beliau sudah mulai mengajar sebagai guru honorer di MTs di Desa Burai. 

Ini menarik karena dunia pendidikan sudah masuk ke dalam kehidupannya sejak usia muda, bahkan sebelum beliau memperoleh status sebagai guru profesional.

2. Dari SMA ke Universitas Sriwijaya

Beliau menyelesaikan SMA pada 1995, kemudian melanjutkan pendidikan ke Universitas Sriwijaya (Unsri), jurusan Teknik Elektro. Juga pernah belajar dan menjadi sekjen BEM Sekolah Tinggi Agama Islam Raudhatul Ulum (kini IAIN RU). Pernah juga belajar di Pasca Sarjana Universitas PGRI Palembang. 

Namun, yang menarik adalah beliau tidak menunggu sampai lulus kuliah untuk mulai bekerja.

Pada 1996, sambil kuliah, beliau sudah mengajar di MTs di Desa Burai. Kemudian pada 2000, beliau mulai mengajar sebagai guru honorer di SMA Negeri 1 Tanjung Batu. Pada 2001, pendidikan kuliahnya selesai. 

Jadi, sejak awal perjalanan profesionalnya terdapat dua dunia yang berjalan bersamaan:

ILMU → PENDIDIKAN → DAKWAH

3. Perjuangan panjang menjadi guru

Ini salah satu bagian paling inspiratif dari biografinya.

Beliau bukan lulusan fakultas keguruan. Gelar akademiknya adalah Sarjana Teknik Elektro, sedangkan pekerjaan yang beliau pilih justru menjadi guru.

Selama bertahun-tahun beliau tetap mengajar sebagai tenaga honorer, hingga diangkat sebagai guru ASN sampai dengan sekarang. 

Sumber Dompet Dhuafa mencatat bahwa beliau baru mengambil Akta IV pada 2006 untuk memperkuat kompetensi kependidikannya. Setelah itu pun beliau masih harus menjalani masa sebagai guru honorer.

Baru pada 2014, setelah sekitar 14 tahun menjadi guru honorer, beliau diangkat menjadi ASN melalui jalur Tenaga Honorer Kategori 2. Beliau kemudian mengajar Matematika di SMA Negeri 1 Tanjung Batu sampai dengan sekarang. 

Menurut penulis, fase ini memberikan salah satu pesan terkuat dari perjalanan beliau:

"Jangan berhenti berikhtiar hanya karena jalan yang ditempuh panjang".

Bahkan dalam sebuah wawancara, beliau menceritakan bahwa selama menjadi honorer pendapatannya tidak besar dan latar belakang Sarjana Elektro membuat peluang menjadi ASN terasa sulit. Namun beliau memandang bahwa Allah selalu memberikan rezeki dan jalan bagi hamba-Nya. 

4. Guru yang tidak hanya mengajar pelajaran

Setelah mengajar, beliau tidak berhenti pada aktivitas akademik.

Beliau aktif membina Rohani Islam (Rohis) di SMA Negeri 1 Tanjung Batu. 

Di sinilah terlihat pola yang kemudian menjadi ciri khas perjalanan beliau:

Mengajar ilmu → membina karakter → membangun keimanan → membimbing kehidupan.

Dengan kata lain, menjadi guru bagi beliau bukan hanya menyampaikan materi pelajaran.

5. Dari guru menjadi dai

Perjalanan dakwah beliau kemudian berkembang lebih luas.

Pada 2016, beliau mulai bergabung dengan Dompet Dhuafa Sumatera Selatan. Awalnya beliau diminta mengisi ceramah agama di Radio Smart FM Palembang, terutama pada bulan Ramadan. Setelah itu beliau rutin menjadi penceramah di radio tersebut dan kemudian bergabung sebagai anggota Corps Dai Dompet Dhuafa (Cordofa) Sumatera Selatan. 

Beliau juga pernah dipercaya memberikan tausiah di majelis taklim yang diperuntukkan bagi kaum dhuafa yang menjadi anggota Klinik Layanan Kesehatan Cuma-Cuma Dompet Dhuafa Sumsel. 

Jadi perjalanan dakwahnya tidak muncul secara tiba-tiba. Ia berkembang dari: Guru → pembina Rohis → pembina pengajian → dai → penggerak majelis taklim.

6. Lahir dan berkembangnya Tarbiyah Syamilah

Sampai sekarang beliau telah membina sekitar 40 unit pengajian/majelis taklim yang tersebar di berbagai wilayah Ogan Ilir. Di antaranya di kecamatan Tanjung Batu, Payaraman, Rambang Kuang, Indralaya, Indralaya Selatan, Indralaya Utara, dan Tanjung Raja. 

Pada tahun 2018, beliau mendaftarkan Tarbiyah Syamilah di Kementerian Hukum dan HAM sebagai Yayasan Tarbiyah Syamilah, yang bergerak dalam bidang keagamaan, sosial dan pendidikan. Pada saat itu beliau mengatakan bahwa kegiatan yang sudah berjalan terutama bidang keagamaan dan sosial, sementara bidang pendidikan masih menjadi cita-cita, termasuk rencana mendirikan pondok pesantren. 

Dan ada perkembangan penting.

Pada 2023, Tarbiyah Syamilah telah memiliki 35 unit RMT di Ogan Ilir dan mulai memperkuat jaringan di Kota Palembang. 

Dalam sambutannya saat pelantikan RMT Tarbiyah Syamilah Palembang, beliau menjelaskan bahwa konsepnya adalah memberikan pemahaman Islam secara menyeluruh melalui bimbingan tarbiyah yang dilakukan rutin setiap satu atau dua pekan. 

Ini menjelaskan nama “Tarbiyah Syamilah” dengan sangat baik yaitu tarbiyah = pembinaan dan syamilah = menyeluruh. 

Bukan hanya belajar agama, tetapi berusaha membawa nilai Islam ke dalam kehidupan.

7. Dari 20 unit menjadi 40 unit

Ada perkembangan yang sangat penting dalam sumber yang lebih baru.

Dalam buku Zikir dan Do'a Istighfar, biodata beliau menyebut bahwa beliau mampu membina 40 unit Majelis Taklim di Kabupaten Ogan Ilir, yang dihimpun dalam Yayasan Tarbiyah Syamilah. Buku tersebut juga mencantumkan beliau sebagai Ketua Yayasan Tarbiyah Syamilah. 

Artinya, kalau kita mengikuti jejak kronologis sumber:

2019 → sekitar 20 unit

2023 → 35 unit Ogan Ilir

2023/2026 → 40 unit Ogan Ilir

Ini memperlihatkan perkembangan jaringan pembinaan yang cukup signifikan.

Dan angka 40 unit juga sesuai dengan data terbaru yang sebelumnya Anda sampaikan kepada saya untuk materi Milad ke-20 Tarbiyah Syamilah 2026.

8. Dakwah yang tidak berhenti di mimbar

Salah satu karakter menarik dari kiprah beliau adalah dakwah yang dikombinasikan dengan aksi sosial.

Contohnya, pada awal 2024, pengajian akbar Tarbiyah Syamilah yang dihadiri sekitar 400 jamaah juga menjadi momentum kepedulian kepada Palestina. Jamaah berhasil menghimpun Rp14.306.000 untuk bantuan Palestina melalui Dompet Dhuafa. Ustadz Muttaqin Anang Toha saat itu hadir sebagai Ketua Yayasan Tarbiyah Syamilah dan memberikan tausiah. 

Jadi konsepnya bukan: “Datang → dengar ceramah → pulang.”

Tetapi: “Belajar → berubah → bersaudara → beramal → memberi manfaat.”

Hal ini sangat dekat dengan filosofi Tarbiyah Syamilah.

9. Menulis sebagai sarana dakwah

Kiprah beliau juga berkembang menjadi literasi dakwah.

Salah satu karya yang tercatat secara resmi dalam Book in Print Perpustakaan Nasional adalah:

Bekal Orang Beriman

Penulis: Muttaqin Anang Toha

Palembang: Goldium Indonesia, 2018

182 halaman. 

Dalam biodata buku Zikir dan Do'a Istighfar, karya-karya beliau yang dicantumkan antara lain:

Bekal Orang Beriman — 2018

Abi M@M (Aku Bisa Membaca dan Menulis) — 2020

Mutiara Hidayah dari QS. Al-Fatihah — 2021

Do'a-do'a Terbaik dari Al-Qur'an

Buku Saku Perjalanan: Ikhtiar Aman, Selamat dan Berkah — 2024

Zikir dan Do'a Istighfar — 2024. 

Bahkan buku Zikir dan Do'a Istighfar diterbitkan oleh Yayasan Tarbiyah Syamilah dan memuat biodata serta pengalaman organisasi beliau. 

10. Ada ciri khas dalam cara berpikirnya

Dari tulisan-tulisan yang tim temukan, ada satu hal yang cukup unik.

Beliau sering menggunakan ilmu pengetahuan dan fenomena sehari-hari sebagai jembatan menuju tadabbur Islam.

Misalnya, beliau menulis tentang listrik dan mengambil pelajaran dari bagaimana listrik harus mengalir melalui penghantar yang tepat agar menghasilkan manfaat. Kemudian konsep tersebut digunakan sebagai analogi kehidupan manusia dan amal saleh. 

Ada pula tulisan “Belajar dari Atom”, yang menggunakan konsep proton, neutron dan elektron sebagai pintu masuk untuk menjelaskan pentingnya lingkungan orang-orang saleh dan pengendalian hawa nafsu. 

Ini sangat masuk akal jika melihat latar belakang beliau sebagai Sarjana Teknik Elektro sekaligus guru Matematika.

Jadi pendekatan dakwah beliau tampaknya memiliki karakter:

Sains → logika → tadabbur → nilai Islam → aplikasi kehidupan.

11. Kiprah organisasinya semakin luas

Dalam biodata buku Zikir dan Do'a Istighfar, selain Ketua Yayasan Tarbiyah Syamilah, beliau tercatat memiliki sejumlah peran:

Pembina Rohis SMA Negeri 1 Tanjung Batu

Ketua Pengajian Bulanan Masjid Agung An Nur Indralaya

Perwakilan/owner UmrohSamo_UMAT

Anggota Corps Dai Dompet Dhuafa Sumatera Selatan

Ketua PC DMI Kecamatan Tanjung Batu

Ketua DPD Ittihadul Muballighin Ogan Ilir

Kabid Humas Lembaga Pembinaan Rumah Tahfidz Ogan Ilir. 

Sumber Dompet Dhuafa yang lebih baru juga menyebut beliau sebagai local leader dai Dompet Dhuafa Sumatera Selatan sekaligus Ketua Umum Yayasan Tarbiyah Syamilah. Pada Oktober 2025, beliau terlibat dalam kegiatan penguatan semangat dakwah bersama jaringan dai Dompet Dhuafa. 

12. Umrah juga menjadi bagian dari kiprahnya

Sejak 2019 sampai dengan Juli 2026, beliau sudah dipercaya 10 kali mendampingi jamaah umrah. Kegiatan #UmrohSamo_UMAT kemudian berkembang menjadi salah satu aktivitas yang cukup aktif, termasuk program manasik, pendampingan jamaah dan paket perjalanan umrah.

13. Perjalanan 20 tahun dari satu majelis menuju gerakan umat

Dalam rangka menyambut Milad ke-20 Tarbiyah Syamilah pada 2026, Beliau menjelaskan bahwa perjalanan dakwah beliau bermula dari 1 unit pengajian di Desa Rengas 1 & Rengas 2 dan kini berkembang menjadi 40 unit di Kabupaten Ogan Ilir + 7 unit di Kota Palembang.

Dari sebuah majelis kecil menjadi jaringan pembinaan umat.

14. Kalau seluruh perjalanan itu kita rangkai

Ada enam fase besar dalam kehidupan Ustadz Muttaqin Anang Toha:

FASE 1 — Anak Burai

1977–1995

Lahir dan tumbuh di Desa Burai, Ogan Ilir, sebagai anak pertama Bapak Anang Toha Toseh

FASE 2 — Mahasiswa sekaligus guru

1996–2001

Kuliah Elektro di Unsri sambil mulai mengajar di MTs Burai dan kemudian SMA Negeri 1 Tanjung Batu. 

FASE 3 — Guru pejuang

2001–2014

Menjalani sekitar 14 tahun sebagai guru honorer, mengambil Akta IV, membina Rohis, hingga akhirnya diangkat menjadi ASN pada 2014. 

FASE 4 — Guru yang menjadi dai

2014–2019

Dakwah berkembang melalui Rohis, majelis taklim, radio dan kemudian Cordofa Dompet Dhuafa. Pada 2019 sudah membina sekitar 20 unit pengajian. 

FASE 5 — Membangun gerakan

2019–2024

Tarbiyah Syamilah berkembang dari jaringan majelis taklim menjadi organisasi pembinaan umat dengan puluhan unit, kegiatan sosial, pengajian akbar dan jaringan Palembang. 

FASE 6 — Memperluas manfaat

2024–sekarang

Dakwah berkembang melalui majelis taklim, buku, pendidikan, sosial, pembinaan dai, umrah, dan berbagai kegiatan pemberdayaan. Pada 2025 beliau masih aktif sebagai local leader dai Dompet Dhuafa Sumsel dan Ketua Umum Yayasan Tarbiyah Syamilah. 

Yang paling menarik dari semuanya

Setelah menelusuri sumber-sumber ini, saya justru melihat bahwa inti perjalanan Ustadz Muttaqin Anang Toha bukanlah jabatan: guru → ASN → ketua yayasan → dai.

Tetapi lebih tepat:

BELAJAR → MENGAJAR → MEMBINA → BERDAKWAH → MEMBANGUN GERAKAN → MEMBERI MANFAAT

Dan ada benang merah yang sangat kuat:

Beliau belajar ilmu teknik → menjadi guru → menggunakan ilmu untuk mendidik → menggunakan pendidikan untuk membina manusia → menggunakan dakwah untuk membangun komunitas → menggunakan komunitas untuk memberi manfaat sosial.

Bahkan motto yang kemudian muncul dalam jaringan Tarbiyah Syamilah, “Belajar Sepanjang Masa,” terasa sangat sesuai dengan perjalanan hidup beliau sendiri. Dalam peresmian RMT Palembang, beliau memang menekankan bahwa Tarbiyah Syamilah merupakan pembinaan Islam yang dilakukan secara rutin dan menyeluruh. 

Dan penulis kira ada satu kalimat yang paling tepat untuk menggambarkan perjalanan beliau:

“Dari seorang anak Burai yang belajar, menjadi seorang guru yang mengajar; dari seorang guru yang mengajar, menjadi seorang dai yang membina; dan dari seorang dai yang membina, tumbuh sebuah gerakan yang mengajak umat untuk belajar sepanjang masa, bersaudara selamanya, dan berdakwah untuk tujuan yang mulia.”

UMAT; USTADZ MUTTAQIN ANANG TOHA UMAT; USTADZ MUTTAQIN ANANG TOHA Reviewed by TARBIYAH SYAMILAH on 11:15 AM Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.